Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 13 Mei 2013

Tugas Mhsw Teori Belajar Konstruktivisme


TEORI KONSTRUKTIVISME
Guna memenuhi tugas Teknologi Pendidikan

 


Oleh :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Tiyan Tri Septiana               
Farida Nurkhasanah                       
Ispa Indria                            
Utaminingsih                        
Ambar Sari                           
Tri Sunarni                           
Eka Widayanti                     
Anik Suryani            

02.7827
02.7832
02.7841
02.7842
02.7851
02.7856
02.7858
02.8398



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MAMBA’UL ‘ULUM SURAKARTA
( S T A I M U S )
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Konstruktivisime adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari kontruksi kognitif melalui kegiatan individu dengan membuat struktur, kategori, konsep dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.
Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Pengetahuan juga bukan merupakan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.
Banyak peserta didik yang salah menangkap apa yang diberikan oleh gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikonstruksikan sendiri oleh peserta didik tersebut.Peran guru dalam pembelajaran bukan pemindahan pengetahuan, tetapi hanya sebagai fasilitator,  yang menyediakan stimulus baik berupa strategi pembelajaran, bimbingan dan bantuan ketika peserta didik, mengalami kesulitan belajar, ataupun menyediakan media dan materi pembelajaran agar peserta didik itu merasa termotivasi, tertarik untuk belajar sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan ahirnya peserta didik tersebut mampu mengkontruksi sendiri pengetahuaanya.






BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme dibagi menjadi 3  yaitu :
1.      Konstruksi berarti membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
2.       Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang tebatas.
3.      Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar dan mencari kebutuhnnya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan dan kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas orang lain.
Jadi kesimpulannya adalah Teori Konstruktivisme adalah teori yang memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. 

  1. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky
Yang mendefinisikan Teori Konstruktivisme sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan himpunan dan pembinaanpengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Selain itu ada juga beberapa pandangan tentang Teori Konstruktivisme, yang menyatakan bahwa teori ini tidak hanya mengandalkan guru tetapi siswa juga harus aktif dalam hal belajar.

  1. Kelebihan Dan Kelemahan Teori Konstruktivisme
Kelebihan teori konstruktivisme :
·         Berfikir dalam proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan masalah  dan membuat keputusan.
·         Faham : Oleh karena siswa terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
·         Ingat : Oleh karena siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin siswa melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
·          Kemahiran sosial : Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan teman dan guru dalam membina pengetahuan baru.
Kelemahan teori konstruktivisme :
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.
Ø  Pandangan Tentang Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut:
1)      Ruseffendi (1998: 132)
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget  yang merupakan bagian dari teori kognitif juga.Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.
2)      Dahar (1989: 159)    
Menegaskan bahwa penekanan teori konstruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori ini adalah sebagai fasilitator atau moderator.
3)      Jean piaget
Mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikkan. Bahkan perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka berinteraksi dengan lingkungannya.
4)      Susan, Marilyn, dan Tony (1995: 222)
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut konstruktivisme, Bell dan Driver  mengajukan karakteristik sebagai berikut:
·         Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif, melainkan memiliki tujuan.
·         Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa.
·         Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara optimal.
·         Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas.
·         Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkar pembelajaran, materi, dan sumber.
5)      Poedjiadi (1999: 62)
Konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang.
Ø  Pendekatan Konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
a.       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
b.      Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
c.       Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran yang baru.
d.      Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
e.       Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tridak konsisten dengan pengetahuan ilmiah.
f.       Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai kaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat belajar
Ø  Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Seperti telah dikemukakan bahwa teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan seperti botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

1.      Menurut Tasker (1992: 30)
Mengemukakan ada tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut:
·         Peran aktif siswa dalam menkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
·         Pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.
·         Mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
2.      Wheatley (1991: 12)
Wheatley mendukung pendapat Tasker dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pempelajaran dengan teori belajar konstruktivisme.
·         Pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.
·         Fungsi kognitif adaptip dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
3.      Hudoyo (1990: 4)\
Secara spesifik Hudoyo mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
4.      Hanbury (1996: 3)
Mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran yaitu:
·         Siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki.
·         Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti.
·         Strategi siswa lebih bernilai.
·         Siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dari beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Ø  Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivism
Berdasarkan hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
  1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan siswa.
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimiliki.
  1. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran.
  1. Adanya lingkungan sosial yang kondusif.
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
  1. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri.
Siswa didorong untuk bisa bertanggungjawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
  1. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang  kehidupan ilmuwan.

  1. Prinsip-prinsip Konstruktivisme.
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
·         Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
·         Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
·         Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
·         Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar.
·         Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
·         Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
·         Mencari dan menilai pendapat siswa.
·         Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Dari semua prinsip diatas ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.

  1.  Implementasi/Penerapan Teori Konstruktivisme di dalam Pembelajaran.
Sebagai calon guru Bahasa Bali, kita harus bisa mengimplementasikan teori ini didalam pembelajaran khususnya di dalam pembelajaran Bahasa Bali dengan jalan:
·         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
·         Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
·         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru.
·         Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa.
·         Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
·          Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Ø  Selain hal diatas ada juga strategi-strategi belajar pada teori konstruktivisme adalah:
a)      Top-down Processing: siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhkan.
b)      Cooperative Learning: strategi yang digunakan untuk proses belajar, agar siswa lebih mudah dalam menghadapi problem yang dihadapi.
c)      Generatif Learning: strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.

  1.  Implikasi Teori Konstruktivisme
Menurut Poedjiadi (1999: 63) ada tiga impikasi teori ini yaitu:
·         Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
·         Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.
·         Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Ø  Kesimpulan
Jadi Teori Konstruktivisme adalah pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Peran Guru dalam pembelajaran menurut Teori Konstruktivisme adalah sebagai fasilitator atau mediator.

Ø  Daftar pustaka
1.      Mustaji,2009. Teori dan model pembelajaran.unesa university press,Surabaya

Tugas Mhsw Teori Belajar Behaviorisme


TUGAS TEKNOLOGI PENDIDIKAN
TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
  

DI SUSUN OLEH        :

1.     THOHA BUDIN MAHMUD
2.     MUH FAHRI YUNIAR
3.     MUH AZRINUDIN




BAB I
PENDAHULUAN

         A.    Latar Belakang
Belajar merupakan aktifitas individu yang melakukan belajar, yaitu proses kerja faktor internal. Menurut Peaget belajar adalah proses penyesuaian atau adaptasi melalui asimilasi dan akomodasi antara stimulasi dengan unit dasar kognisi seseorang yang oleh Peaget menjadi schema. Menurut pandangan psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini yang penting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus  dan output yang berupa respon.
Jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal ini  dapat kita lihat dalam pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan makna.
Oleh karenanya kami menyusun makalah Teori Belajar menrut Aliran Behavioristik yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu kami yang ingin mengetahui lebih lanjut lagi tentang Teori Behavioristik dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang  pendekatan behaviorisme tersebut, sehingga pembaca memang benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan behaviorisme.

TEORI BELAJAR BEHAVIORI
     A.     PENGERTIAN TEORI BEHAVIORISME

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Ciri dari teori belajar behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Ada beberapa tokoh teori belajar behaviorisme. Tokoh-tokoh aliran behavioristik tersebut antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
     B.    Teori Belajar Behaviorisme
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebihkomprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
C.     KELEMAHAN DAN KELEBIHAN TEORI BEHAVIORIS
1.      Keunggulan Teori Behavioristik
·         Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
·         Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar

2.      Kelemahan Teori Behavioristik
Kelemahan teori behaviorisme adalah sebagai berikut.
·         Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.
·         Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang   didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa (teori skinner) baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata – kata kasar, ejekan ,  jeweran yang justru berakibat buruk pada siswa.

3.      IMPLIKASI TEORI BEHAVIORIS TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN

Perhubungan antara rangsangan dengan gerak balas kerap berlaku dalam situasi pengajaran pembelajaran dalam bilik darjah. Oleh karena itu, tingkah laku kanak-kanak semasa proses pengajaran dan pembelajaran sangat bergantung kepada pertalian antara peneguhan guru dan gerak balas kanak-kanak dalam bilik darjah.   Prinsip perhubungan menyarankan bahawa sesuatu pembelajaran boleh berlaku  apabila perkara-perkara mempunyai pertalian di antara satu sama lain. Melalui kaedah pembelajaran ini, seseorang itu dapat menghubungkaitkan satu idea dengan idea yang lain, satu pengalaman dengan pengalaman yang lain ataupun antara perkara-perkara yang berkaitan.
Oleh karena itu dapat kita simpulkan

1.      apabila sesuatu perkara timbul (ransangan), perkara yang lain (gerak balas) dapat diingatkan. Implikasi Skinner dalam bilik darjah ialah pemberian peneguhan yang positif seperti pujian, motivasi dan lain –lain
2.      menggunakan prinsip penghapusan dalam  bilik darjah
3.      serta motivasi membangkitkan tingkah laku positif.

Bagi implikasi Behavioris pula adalah menghubungkaitkan perkara yang positif dan menyenangkan dengan tugasan  pembelajaran.berikan peneguhan yang banyak ketika mewujudkan tingkah laku yang baru; serta menggalakkan pelajar berdamping situasi yang menakutkan sekiranya tindakan itu tidak menimbulkan hasil yang negatif.





BAB III
PENUTUP

      A.    KESIMPULAN

Dalam konsep Behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat di ubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Teori behaviorisme sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat di amati. Teori-teori dalam rumpun ini sangat bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.

    B.     SARAN dan KRITIK
Dalam penyusunan makalah ini kami merasa masih sangat jauh dari kata sempurna oleh karena itu kami siap menerima kritik dan saran dari rekan rekan semua yang sifatnya membangun, agar di kemudian hari kami bisa membuat dan menyempurnakan makalah ini.





DAFTAR PUSTAKA




Jumat, 10 Mei 2013

Teknologi Bagi Pemelajar Yang Beraneka Ragam


Teknologi Bagi Pemelajar yang Beraneka Ragam

           Teknologi merupakan hasil rekayasa manusia yang diciptakan dan dikembangkan untuk tujuan efisiensi, serta mengatasi masalah serta keterbatasan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup baik yang sifatnya primer, sekunder maupun tersier , manusia menciptakan teknologi, dari yang sederhana sampai yang canggih. Manusia selalu memaksimalkan penggunaan unsur unsur berfikir ilmiah untuk menciptakan teknologi, Sebagai contoh, teknologi dalam pembuatan rumah, dari rumah yang papan yang sederhana sampai gedung pencakar langit dengan teknologi tahan gempa. Teknologi hasil rekayasa manusia merupakan unsur penting dalam berbagai aspek kehidupan. 
           Di dalam pendidikan, Teknologi memiliki  peran yang sangat penting , lebih lebih bagi  siswa yang memiliki kekhususan. Teknologi dan media yang disesuaikan dan dirancang secara khusus bisa memberi  kontribusi bagi pengajaran yang efektif dari seluruh siswa dan bisa membantu mereka meraih potensi tertinggi mereka, terlepas dari kemampuan bawaan mereka itu.
           Anak-anak dengan ketidakmampuan secara khusus membutuhkan intervensi pengajaran khusus. Sebagai contoh, Siswa yang pendengaran atau penglihantannya memiliki kekurangan akan membutuhkan jenis bahan-bahan belajar yang berbeda-beda. Penekanan harus diberikan untuk audio bagi siswa dengan hambatan penglihatan daripada untuk para siswa lainnya. Menyesuaikan pengajaran untuk seluruh kelompok khusus membutuhkan pengandalan pada teknologi dan media serta pemilihan peralatan yang tepat agar sesuai dengan tujuan yang spesifik. Banyak guru telah menemukan bahwa strategi-strategi bantuan tersebut menguntungkan bagi siswa yang memiliki ketidakmampuan.
           Teknologi bantuan dapat dikelompokkan menjadi teknologi rendah, sedang, atau teknologi tinggi. Teknologi rendah tidak menggunakan kelistrikan, yaitu tidak perlu dicolok dan tidak juga membutuhkan baterai. Sebagai missal, sebuah kaca pembesar untuk memperbesar bahan-bahan cetakan bagi siswa yang terhambat secara penglihatan digolongkan teknologi pembantu berteknologi rendah. Teknologi menengah membutuhkan kelistrikan. Komputer, Internet merupakan contoh dari teknologi pembantu berteknologi tinggi.
           Pemelajar yang beraneka ragam juga meliputi siswa yang berbakat dan berkemampuan luar-biasa yang sebagai contoh bisa memanfaatkan Koran, surat kabar , DVD,  menggunakan internet untuk mencari informasi terbaru atau terlibat dalam “obrolan” langsung dengan penulis yang bukunya sedang dibaca dalam kelas atau dengan tokoh  yang akan memberikan suara mengenai masalah lingkungan yang sedang dibahas. Mereka bisa diminta untuk menganalisis informasi yang mereka dapatkan dan untuk membuat presentasi di hadapan para siswa lainnya, mungkin menggunakan powerpoint, atau mereka bisa memasang temuan-temuan mereka dihalaman situs web kelas.
           Para siswa tidak lagi dibatasi oleh halangan ruang kelas. Melalui jaringan computer dan pusat media sekolah seperti internet, dunia manjadi ruang kelas bagi setiap siswa.
          
Media
           Media, bentuk jamak dari perantara (medium), merupakan sarana komunikasi. Berasal dari bahasa Latin medium (“antara”), istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima. Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, perekayasa (manipulative) (benda-benda), dan orang-orang. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar. 
           Mari kita tinjau lebih perinci tentang enam kategori dasar media yang digunakan dalam belajar. Media yang paling umum digunakan adalah teks. Teks merupakan karakter alfanumerik yang mungkin ditampilkan dalam format apa pun –buku, poster, papan tulis, layar computer, dan sebagainya. Media lainnya yang umum digunakan dalam belajar adalah audio. Audio mencakup apa saja yang Anda bisa dengar –suara orang, music, suara mekanis (deru mesin mobil), suara berisik, dan sebagainya. Suara-suara tersebut bisa langsung terdengar atau direkam. Visual rutin digunakan untuk memicu belajar. Visual meliputi diagram pada sebuah poster, gambar pada sebuah papan tulis putih, foto, gambar pada sebuah buku, kartun, dan sebagainya. Jenis-jenis media lainnya adalah video. Ini merupakan media yang menampilkan gerakan, termasuk DVD, rekaman video, animasi computer, dan sebagainya. Sekumpulan benda-benda yang sering kali tidak termasuk media adalah model dan benda sebenarnya. Perekayasa bersifat tiga dimensi dan bisa disentuh dan dipegang oleh para siswa. Kategori keenam dan terakhir dari media adalah orang-orang, ini bisa berupa guru, siswa, atau ahli bidang studi. Orang-orang sangatlah penting bagi pembelajaran. Para siswa belajar dari guru, siswa lainnya, dan orang dewasa.

Format Media
           Sejauh ini kita telah membahas teknologi dan media dari sebuah perspektif pengajaran. Media merupakan kategori yang sangat luas; teks, audio, visual, video, perekayasa, dan orang-orang. Di dalam tiap-tiap kategori ini terdapat banyak jenis format media.
           Sebuah format media merupakan bentuk fisik yang didalamnya pesan disertakan dan ditampilkan. Format media mencakup, papan tulis penanda (visual dan teks), slide powerpoint (teks dan visual), CD (suara dan music), DVD (video), dan multimedia computer (audio, teks, dan video). Masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan yang berbeda-beda dalam hal jenis pesan yang dapat direkam dan ditampilkan. Memilih sebuah format media bisa menjadi tugas yang rumit. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan meliputi sejumlah besar media dan teknologi yang tersedia, keragaman pemelajar, dan banyaknya tujuan yang harus diraih.
           Ketika memilih format media, situasi atau keadaan pengajaran (misalnya, kelompok besar, kelompok kecil atau pengajaran sendiri), variable pemelajar (misalnya, pembaca, bukan pembaca, atau lebih suka mendengar), dan sifat tujuan (misalnya, kognitif, afektif, kemampuan motorik, atau antarpersonal) harus diperhatikan. Juga perlu diperhatikan kemampuan menyajikan dari tiap-tiap format media (misalnya, visual diam, visual bergerak, kata-kata bercetak, atau kata-kata yang disuarakan). ( Smaldino, 2011 : 7)
          Faktor faktor yang menjadi  pertimbangan yang lebih praktis dalam penilihan media menurut Anita ( 2008 : 89) adalah : 1. Tujuan pembelajaran, 2. Pebelajar, 3. Ketersediaan, 4. Ketepatgunaan,  5. Biaya, 6. Mutu Teknis, 7. Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM).

Bahan-Bahan Pengajaran
           Begitu Anda telah menentukan format media, misalnya DVD, Anda harus menentukan DVD mana yang tepat untuk digunakan. DVD yang spesifik menjadi bahan-bahan pengajaran.
           Bahan-bahan pengajaran merupakan benda-benda spesifik yang digunakan dalam sebuah pelajaran yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Sebagai missal, pelajaran untuk anak SD kelas rendah mungkin focus pada persoalan penjumlahan yang sederhana. Untuk menyelesaikannya, sebuah program peranti lunak komputer mungkin digunakan uang memungkinkan para siswa untuk berulang kali melihat presentasi soal-soal praktis, membuat tanggapan terhadap soal tersebut, dan menerima umpan balik. Soal dan umpan balik matematika spesifik yang dirasakan oleh para siswa pada peranti lunak itu merupakan bahan-bahan pengajaran.
           Rancangan dan pemanfaatan bahan-bahan pengajaran sangat penting, karena interaksi siswa dengan bahan-bahan itulah yang menciptakan dan memperkuat belajar yang sebenarnya. Jika bahan-bahan ini lemah, tidak tersusun semestinya, atau diatur dalam susunan yang buruk, maka akan menghasilkan belajar yang terbatas. Bahan-bahan pengajaran yang kuat dan dirancang baik dapat dibuat, disimpan, digunakan kembali, dan dimanfaatkan dalam berbagai cara. Bahan-bahan ini akan diingat para pembelajar dan bahan-bahan ini harus dibuat, dipadukan, dan disajikan sedemikian rupa sehingga memungkinkan para pemelajar memperoleh dampak yang diperlukan.

Sumber : 
Smaldino Sharon E., (2011) Instructional Technology and media for Learning, Pearson Education, Inc.
SriAnitah, (2008) Media Pembelajaran, Solo : UNS Press